Rental Sewa Suzuki Ertiga
Sewa Mobil Wuling Cortez
Rental mobil Nissan Xtrail
Rental Sewa Mobil Toyota Sienta
Sewa mobil Kia
Rental sewa mobil Innova
Rental Mobil Fortuner
Rental Mobil Mercedes E Class
Sewa Hiace
Rental Mobil New Camry
Sewa Alphard
Rental Mobil New CRV di Jakarta
Sewal Hyundai H1
Rental Mobil Honda Mobilio
Rental Mobil Nissan Evalia

Gunakan Klakson Dengan Bijak, Ini Etikanya

08 Nov 2018

Ada banyak fitur yang bisa dimanfaatkan oleh pengendara motor atau mobil agar berkomunikasi maupun memperingati pengguna jalan lainnya. Satu diantara adalah klakson

Membunyikan klakson memang penting, Otolovers. Tapi bukan berarti pengendara bisa menggunakannya sembarangan atau sesukanya. Karena hal tersebut pasti sangat menjengkelkan, tak jarang juga yang tersulut kemarahannya. Apalagi bila menggunakan klakson terus-menerus saat macet karena lampu merah. 

Dalam situs resmi Kementerian Perhubungan (Kemenhub), ada aturan tertulis dalam menggunakan klakson yakni tidak boleh mengganti klakson dengan bunyi yang terlalu keras sehingga mengganggu pengguna jalan lain.

"Agar tidak menimbulkan polusi suara dan diterima dengan bagus oleh indera dengar manusia, kekuatan bunyinya pun harus sesuai dengan aturan yakni paling rendah 83 desibel dan paling tinggi 118 desibel," sebutnya.

Aturan ini terdapat dalam PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 55 Tahun 2012 Pasal 69. Di situs tersebut, Kemenhub juga mengingatkan supaya fungsikan klakson secara bijak. Jadi, membunyikan klakson tidak boleh sembarangan, ya Otolovers. 

Hal penting selanjutnya adalah pahami arti dari bunyi klakson itu sendiri. Sebagai contoh, membunyikan klakson sekali dianggap sebuah sapaan, dua kali diartikan panggilan atau minta perhatian, atau bisa juga sebuah ucapan terima kasih ketika menyalip kendaraan lain.

Selalu ingat bahwa penggunaan klakson yang salah berisiko memancing emosi pengendara lain. Seperti membunyikan klakson dalam waktu yang lama tanpa putus. Tingkah seperti itu tidak cuma berisik, tapi mampu memancing keributan di jalan raya.