news

25 Feb 2016

Mobil Listrik Nasional Sudah Siap Produksi

Mobil Listrik Nasional Sudah Siap Produksi

Para peneliti mobil listrik di Indonesia mengaku sudah siap menyokong industri mobil listrik menuju tahapan manufaktur. Seluruh pemegang kepentingan di bidang ini, saling bahu-membahu menyiapkan beberapa komponen vital yang ada pada kendaraan listrik.

Para peneliti itu terdiri dari beberapa perguruan tinggi negeri (PTN), yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Sepuluh Nopember (ITS), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Riset Dikti) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Masing-masing PTN dan lembaga pemerintah saling berbagi tugas. Setiap kelompok meneliti beberapa komponen utama yang digunakan mobil listrik. "Di ITS kami sudah bisa membuat prototipe mobil listrik secara penuh. Kalau minus baterai, kesiapan kami bisa dibilang sudah 90 persen," ucap Muhammad Nur Yuniarto, Kepala Peneliti Kendaraan Listrik ITS di Jakarta Selatan, Rabu (24/2/2016).

Beberapa komponen utama, seperti motor listrik, modul pengatur daya, transmisi, sampai sistem pengisian sudah berhasil dikuasai. Sementara komponen umum lain, seperti ban, baut, pelek, lampu, jok, dan sebagainya, bisa memanfaatkan industri yang sudah ada di Indonesia.

"Seluruh hasil penelitian PTN ini adalah milik negara. Jadi, mau diapakan saja terserah negara. Mau didorong ke pelaku industri atau kasarnya dibakar juga terserah pemerintah saja," kata Nur.

Persepsi Salah

Banyaknya kendaraan prototipe mobil listrik yang dilahirkan PTN di Indonesia, kerap menimbulkan presepsi yang salah dari masyarakat. Menurut Nur, sudut pandang masyarakat selalu melihat dari produk yang dihasilkan, berupa mobil yang statusnya masih prototipe.

Tentu jika dibandingkan dengan model-model lain yang sudah ada dipasarkan merek asing, terlihat kalah. "Ini yang salah. PTN itu fokusnya adalah pada knowledge-nya, bukan pada produknya. Dengan menampilkan prototipe ini, artinya kita sudah bisa menguasai knowledge dari teknologi itu. Di sini seharusnya sudut pandang dilihatnya," ucap Nur.


Latest News