news

08 Jun 2018

"Wajah Kartun" Daihatsu Copen Si Pencuri Pandang Mata

Sampai akhirnya generasi pertama Copen berhenti diproduksi pada 2012, mobil “mungil” itu memang tidak pernah dijual Astra Daihatsu Motor (ADM) di Indonesia. Namun, setelah konsep penerus debut di Tokyo Motor Show 2013 dengan nama Kopen, versi produksi generasi kedua mulai dijual sejak Mei 2015 di Tanah Air.

Sekarang  namanya tidak lagi Kopen, tapi jadi tertulis Copen persis seperti generasi pertama. Copen memiliki bodi roadster dengan atap lipat yang dirancang menggunakan basis D-Frame, ukurannya tetap ringkas mengikuti regulasi kei car yang berlaku di Jepang. Generasi kedua Copen meluncur di Negeri Sakura pada 19 Juni 2014.

 Di kampung halamannya boleh jadi Copen sesuai dengan kondisi geografis, infrastruktur, sampai kebudayaan Jepang, namun bagaimana bila digunakan di luar habitat aslinya, seperti Jakarta? KompasOtomotif ingin menjawab pertanyaan itu, sekaligus mau mencoba bagaimana rasanya jadi pemilik salah satu dari 14 unit Copen yang sudah terjual sepanjang 2015.

Gayung bersambut, ADM mau meminjamkan satu unit Copen berwarna matador red untuk diuji pada dua pekan lalu.

Kartun Jepang

Sebelum lebih dalam mengupas soal pengoperasian mobil bermesin 3-silinder 660cc turbo ini lebih detail mari kita bahas dulu tentang desain eksterior yang membuat Copen mudah sekali jadi pusat perhatian.

Dibanding pendahulu, Copen sekarang jauh lebih sedap dipandang. Desain bulat-bulat yang terkesan lucu pada model sebelumnya dicoret dari kertas sketsa, kemudian diganti jadi perkasa dengan permainan siku.

Persepsi buat tampang Copen bisa jadi berbeda-beda, tapi buat saya rautan wajahnya sangat khas Jepang. Bila dipandang lurus dari depan mirip topeng baju perang samurai, geser tiga langkah ke samping maka yang kelihatan mimik tokoh animasi kartun Jepang dengan make-up di samping mata. Copen menggunakan lampu depan projector LED yang belum dimiliki model Daihatsu lainnya di Indonesia. Sedangkan sebagai pemanis ada lampu iluminasi yang bisa berfungsi sebagai daytime running light (DRL).

Bedanya, nyala lampu iluminasi itu lebih keren bila dinyalakan siang hari karena membentuk siku di sisi luar lampu depan. Beranjak ke samping bodi bisa dilihat keempat kakinya pakai “sepatu” 16 inci palang lima plus ban ukuran 165/50. Di depan menggunakan rem cakram, di belakang masih tromol.

Catatan khusus, Copen tidak membawa ban cadangan. Bila apes misalnya ban kempis di jalan tersedia perlengkapan darurat berupa cairan pelapis bocor yang dimasukan lewat lubang pentil, lantas ban diisi angin menggunakan kompresor listrik.

Jadi kalau suatu saat berjumpa petugas polantas di jalan, siap-siap ditilang, atau setidaknya berdebat, karena dianggap melanggar Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terkait kelengkapan kendaraan (ban serep).

 Melangkah ke buritan, di setiap sisi luar lampu belakang punya tambahan “mata kucing” vertikal. Dari sini bisa kelihatan Daihatsu benar-benar ingin membuang kesan membulat. Di bagian bemper paling bawah terdapat dua ujung knalpot.

 Keduanya berfungsi, bukan mainan.
Logo Daihatsu hanya terlihat di belakang, sedangkan di depan punya emblem khusus bertuliskan Copen. Hal ini yang bikin Copen seperti mobil asing bila berpapasan, buat yang tidak tahu mereknya hanya bisa dikenali jika bagian bokongnya sudah terlihat.

Copen tidak akan punya masalah soal parkir karena bodinya jauh lebih kecil dari ukuran standar lahan parkir di mall. Sebagai gambaran, Copen lebih pendek 20 cm, lebih ramping 12,5 cm, dan lebih rendah 24 cm dari Ayla.  

Curi pandang

Satu hal yang pasti buat siapa saja yang jadi pengemudi atau penumpang Copen, jangan kaget kalau dilirik banyak pasang mata di jalan. Bukan karena penasaran lihat siapa yang ada di dalam, tapi kebanyakan terpesona oleh Copen.

Saat dibawa jalan-jalan ke kota 1.000 angkot alias Bogor pada Minggu (21/2/2016), Copen menyita banyak sekali perhatian warga. Ketika melintasi Istana Bogor kondisinya macet, di sini saya bisa mengamati betul mimik wajah warga waktu melihat Copen mungkin untuk yang pertama kalinya. Di Jakarta bisa jadi Copen bukan barang aneh, tapi di salah salah satu kota satelit Ibu Kota ini Copen hampir mirip selebriti.

Kelakuan warga macam-macam, ada yang di trotoar menoleh sambil tertawa, sengaja mengarahkan mobil ke samping Copen agar bisa lihat lebih jelas, bahkan sampai anak-anak di angkot pindah tempat duduk sambil mengintip dari kaca. Meski punya tampang serius, Copen terkesan seperti pria ramah yang mudah didekati dan tidak mungkin menyakiti siapapun. Wajah Jepangnya mungkin terasa sudah akrab di mata. 

Kesimpulan

Anda tidak akan menemukan mobil seperti Copen di Indonesia kecuali Smart ForTwo cabriolet atau Honda S660 bila masuk lewat distributor resmi.  Jika rela merogoh kocek sampai Rp 416,55 juta buat manual atau Rp 431,55 juta untuk CVT, Anda bakal dapat keunikan istimewa Copen. Itupun bila tidak suka model SUV Jepang atau mobil entry level Eropa yang dijual di kisaran harga yang sama. Hal lain yang perlu diketahui, aslinya panel bodi Copen bisa dicopot lantas diganti dengan warna lain, tapi hal ini tidak bisa dilakukan di Indonesia terkait keterangan warna pada STNK. 
 


Latest News